Alif memulai cerita dengan rasa percaya diri tinggi: ia telah belajar dan hidup di luar negeri, tulisannya tersebar di banyak media, serta ia diwisuda dengan nilai terbaik. Namun, ia segera menghadapi kenyataan pahit masa lulusnya bertepatan dengan krisis moneter dan reformasi di Indonesia, sehingga peluang kerja menjadi sangat terbatas. Kegagalan pertama dalam meraih pekerjaan membuat Alif harus berpikir ulang tentang langkah hidupnya dan apa yang sebenarnya ia inginkan.