Cerita berpusat pada Rosid, seorang pemuda yang tinggal di kawasan Condet, Jakarta Timur, dalam keluarga keturunan Arab-Betawi. Ayahnya, Mansur al-Gibran, adalah lelaki yang sangat menjunjung tinggi tradisi berpeci putih sebagai simbol kesalehan dan ketaatan beragama. Namun Rosid menolak memakai peci karena rambutnya yang kribo tidak cocok dengan benda itu, dan dia juga percaya bahwa memakai peci adalah tradisi budaya — bukan kewajiban agama.