Adalah Mufit, seorang pemuda yang tumbuh dalam kultur santri dan kial yang cukup konvensional pandangan nilai-nilai hidupnya. Mufit pun berbenturan pandangan dengan kelompok-kelompok Islam namun justru membuatnya tampil sebagai penengah, alternatif penyelesaian atas kecarut-marutan anutan nilai agama. Akhirnya, Mufit pun sanggup menunjukkan dirinya sebagai pribadi yang memang patuh terhadap agama (bukan kelompok Islam tertentu) sekaligus tetap butuh mengejar target duniawi, yakni pendidikan yang tinggi.
Meski begitu, sebagai manusia yang wajar, Mufit juga berhadapan dengan persoalan nurani berupa asmara yang tak dapat dihindari. Itulah yang justru membuatnya matang dalam menjalani hidup, betapa konsep tentang rezeki dan jodoh adalah sesuatu yang memang mutlak, pasti datang dengan sendirinya, meskipun tetap harus diburu. Mufit, santri yang multikulturalis itu, akhirnya memang manusia biasa: bisa jatuh cinta, tentu hanya dengan Wuri Graiti, seorang wanita yang merupakan kawan sekolah. Misteri cinta pun menyeruak. Tak peduli ia seorang kiai, tak peduli ia seorang santri.