sejak menjejakkan kaki di bandara sehiphol, belanda, dan udara dingin menyambutnya, kara lagi merasa asing. mungkin, karena ia pun telah lama lupa dengan hangat. belasan ribu kilometer dari orang-orang tercinta, ia berharap bisa bersembunyi. dari masa lalu, luka dan cinta. yang teronggok di sudut kamarnya. kini, kara tahu ibu yang pergi, kara yang mencari. tak ada waktu untuk cinta. namun, kala senja membingkai leiden dengan jingga yang memerah, kara masih ingat bisik manis laki-laki bermata pirus itu, "il vind je leuk" -- aku suka kamu. juga kecup hangatnya. rasa takut mengepung kara, takut jatuh cinta kepada seseorang yang akhirnya akan pergi begitu saja. dan, meninggalkan perih yang tak tersembuhkan waktu seperti ibu.