semenjak sakit-sakitan, ayah aufa tidak perna bekerja lagi sebagai nelayan. dia hanya tergeletak di tempat tidur. ibu yang bekerja sebagai buruh cuci, merasa bingung, jangankan biaya untuk berobat ayah ke dokter, biaya untuk sehari-hari saja pas-pasan.
aufa kemudian membantu bekerja sebagai tukang parut kelapa di toko mikil pak sulaiman. setiap pulang sekolah, aufa selalu bekerja hingga sore. suatu hari, aufa bertekad membawa ayah berobat. dia membayar biayanya dengan sebagian uang hasil bekerja. saat ayah hampir sembuh. aufa tidak punya uang lagi. aufa sedih sekali. padahal kalau ayah terus berobat, pasti cepat sembuh.