pembacaan atas keindonesiaan, tanpa menyertakan keislaman, dipastikan tidak utuh, paripurna. pasalnya, keislaman menjadi salah satu unsur pembentuk identitas kebangsaan kita. karena itu bagi muslim indonesia, dia harus mampu mengucap dalam satu tarikan nafas, " aku muslim, dan aku indonesia". masalah muncul ketika muslim indonesia tidak kuasa dalam mendialektikkan konsep keumatan dengan kebangsaan. sampai saat ini, proses sintesa keislaman, keumatan di satu sisi, dan keindonesiaan, kebangsaan di sisi lain, masih berlangsung, "demi islam dem indonesia" mencoba mencandra dinamika sentesa tersebut dengan meneropong berbagai persoalan keumatan dan kebangsaan, mulai dari yang makro (dunia islam), sampai pada mikra (islam indonesia)