sekalipun memang rumah yang kini dihuni adalah rumah mama, yang hanya ditemani saudari tirinya, melani, namun yudit betul-betul gunda menghadapi pajangan berbagai siol agama lain di sepanjang dinding dingin itu. kian hari ia disini, kian kuat pulalah gugatan imannya sebagai muslimah untuk mengakhiri semua ini. tapi untuk kembali ke rumah om priyatno, yang selalu memuaskan dahaga imannya, ia juga resah. bayangan yanti, sepupunya, yang tak jemu-jemu bersikap kasar dan bahkan kejam itu, membuatnya harus berpikir seribu kali, toh lantaran sikap buruk yanti jugalah ia kabur.