"apa yang kalian pakai itu?" tanya seorang wanita korea sembari menunjuk ke arah kain yang menutup rapi di kepala kami. "oh, ini namanya jibab," jawabku. "ya ampuuun, apa kalian enggak kepanasan?"
menjalani keseharian sebagai mahasiswi muslim di negeri ginseng tak semudah yang kubayangkan. ada saja tatapan dan anggapan aneh yang tertuju kepadaku. sungguh kurindukan tanah air, tak ada lagi suara azan, makanan halal pun sulit ditemukan.
namun, berbagai pengalaman seru dan tak terduga membuatku bertahan. salah satu saat father mufti, pengurus masjid itewon, mengangkatku dan sahabatku sebagai anak. kami pun diberi nama bernuansa islam olehnya: aisya dan salma. maka dimulailah persaudaraan kami dengan para muslim berbagai belahan dunia dengan keunikan budaya mereka. di bulan ramadhan, buka puasa bersama dengan menu dari bermacam negara selalu menjadi momen yang kami tunggu-tunggu.