esai opini berjudul "ngopi di israel, tambah gula dari iran" ini bukan analisis akademik. ini adalah cermin cerdas rakyat kecil, yang memandang konflik dunia dengan mata jernih dan logika sederhana. sebuah analogi yang lucu tapi menohok: ketika orang-orang penting sibuk adu pengaruh, rakyat kecil cuma ingin kopi tetap manis dan jalan ke warung tidak ditutup seenaknya,
dengan gaya satir dan penuh anekdot, esai ini menyoroti bagaimana peran antara dua negara jauh itu bisa mengganggu harga minyak, gorengan, bahkan ketentraman warkop. betapa ironisnya ketika dunia bicara soal nuklir dan embargo, sementara di warung kopi, yang dikhawatirkan justru tukang gorengan mogok karena minyak mahal. lewat obrolan lucu tapi penuh makna, tulisan ini ingin mengajak kita untuk melihat bahwa yang jadi korban dari setiap konflik bukan hanya tentara dan politisi, tapi juga rakyat biasa yang bahkan tak perna paham kenapa mereka harus takut akan rudal dari negara yang hanya dikenal lewat berita.
semoga esai ini menghibur, sekaligus menyadarkan kita semua: bahwa dunia ini bukan hanya milik negara besar dan pemimpin keras kepala. tapi juga milik para peminum kopi. pengaduk gula, dan penyumbang kentut warung seperti cak brut.
salam hangat dari kampung londo.
jangan lupa seruput kopimu, sebelum semesta kehabisan gula.