sejak kematian ibunya, sudin terpaksa hidup menumpang pada keluarga pak dulah. untuk membantu meringankan baban pak dulah, sudin menjadi penyemir sepatu dan penjual koran di sebuah terminal. suatu saat, sudin ditolong oleh bang leo, seorang seniman lukis, ketika dirinya dirampok dan dipukuli oleh berandalan sehabis berjualan koran. keakraban segera terjalin antara mereka. melihat bakat sudin di bidang lukis, bang leo membimbingnya dengan penuh kesabaran. ketekunan sudin membuahkan hasil dengan keberhasilan dirinya menjadi juara lukis tingkat nasional dalam lomba lukis yang ia ikuti. bang leo jugalah yang mempertemukannya dengan sang ayah yang belum perna ia kenal melalui sebuah lukisan potret peninggalan ibunya.